Sunday, 9 August 2009

MERANTAU - Saatnya Film Silat Indonesia Bangkit



Udah lama saia denger gembar-gembor soal film ini... Kata banyak orang, film ini menjual grafik dan action superkeren yg belum pernah ada di film Indonesia selama ini. Saia sempet lihat trailernya, dan ternyata actionnya emang keren :D jadilah saia kepingin nonton.

Dan akhirnya kemaren Jumat, saia nonton film ini bersama para insan dunia persilatan Indonesia dari PD UGM. Namanya juga orang silat, pasti lah penasaran sama film silat Indonesia. Akhirnya jadilah kita berbondong2 kesana, sekitar 17 orang... lebih kayaknya. LOL

Aku masuknya telat, sempet ketinggalan bagian awal film sekitar 10 menit. Tapi pokoknya ceritanya gini. Yudha (Iko Uwais) adalah pesilat Harimau dari Minangkabau. Setiap anak laki2 dari Minang yang sudah dewasa diharuskan untuk merantau - meninggalkan kampung halamannya untuk kemudian membuat nama bagi dirinya di tempat yang jauh. Yudha meninggalkan kampungnya yang nyaman di pedalaman Minangkabau untuk pergi ke Jakarta, membawa mimpi untuk bisa mengajar silat pada anak2 Jakarta.

Sampai di Jakarta, ternyata hidup memang gak semudah yg dibayangkan. Jakarta kota yg keras, dan Yudha sangat naif. Lewat bantuan Eric, temen seperjalanan yg ditemui Yudha di bus, Yudha ditawari pekerjaan jadi tukang pukul (ato apalah, pokoknya bwahannya mafia gitu) tapi Yudha gak mau.

Gak sengaja, Yudha ketemu cewek cantik namanya Astri (Sisca Jessica) n adeknya, Adit (Yusuf Aulia) yg jadi korban dari gerombolan penjual manusia yg dipimpin Ratger (Mads Koudal) n Luc (Laurent Buson). Bisa ditebak, akhirnya terjadilah kejar2an yg penuh dg adegan action saat Yudha berusaha menyelamatkan Astri dari tangan gerombolan tersebut.

Ceritanya sih biasa aja, malah endingnya agak eswete kalo menurutku. Mungkin maksudnya biar dramatis... tapi malah jadi sinetron banget....

Nilai plus film ini ada di grafiknya yg jernih n memanjakan mata, action, n efek2 yg OKE punya. Emang film action yg belum pernah ada di layar Indonesia selama ini. Actionnya kelihatan mirip banget sama film2 Jackie Chan, kurang keliatan silatnya kalo menurutku... yah cuman bak-buk-bak berantem biasa ajah. Tapi tetep aja... incredible! Akhirnya ada juga film action Indonesia... ga melulu drama, horor, ato film religi yg bikin ngantuk.

Oia, sekedar warning, jangan bawa anak di bawah umur untuk menonton! Soalnya film ini lumayan brutal n banyak darah (meskipun darahnya warna pink jadi ga keliatan kayak beneran...) tapi ya tetep aja bikin aku agak mual2 >.<

Overall rating :
Story : 7.5
Graphic : 9.0

(apalagi yg mau dirate ya? aku bukan kritikus film sih. Cuman mau ngasi resensi aja XP)

Overall 4 out of 5 stars lah... worth watching kok. Bangga juga aku di Indonesia bisa bikin film action yang OK punya. Ada yg mau nonton?? XD

Friday, 24 July 2009

Waterbom Bali

Aku baru pulang dari Bali n Jakarta. Sayangnya liburannya bentar banget, n satu2nya memorable moment cuman pas ke Waterbom n jalan2 di pantai n pasar Kuta.

Aku pergi ke Waterbom tanggal 18 pagi. Asiiiik... udah lama buanget gak kesini sejak umurku... 12 taun apa ya? Pokoknya udah lama buangeeett XD. Ada beberapa perubahan yang aku perhatiin di Waterbom sejak terakhir aku kesana

1. Ada mainan2 baru : Superbowl n Boomerang. Antrinya menn... puanjangg!! Benernya males antri, tapi jarang2 ke waterbom dan mumpung ada mainan baru, masa ga dicoba. Kalo di Superbowl, kita meluncur muter2 di mangkuk raksasa warna oren. Asik sih, tapi sensasinya kalah ama Boomerang, dimana kita terjun 20 meter nyaris tegak lurus, naik di sisi lain, trus turun lagi *bingung ya? liat gambarnya aja deh* XD



(superbowl)



(boomerang. kita meluncur di perosotannya, naik ke temboknya, terus baru deh turun. mantapp)

2. Air di Waterbom sekarang jadi air asin (ato air payau?). Yang jelas wuekk... ga enak buangett! Wah gawat nih dampak abrasi di Bali. Kayaknya daerah2 sekitar pantai emang udah mulai kesulitan dapet air tawar.

3.Harga2 MELANGIT!!! Aku hampir pingsan waktu tau harga masuk rombonganku (5 dewasa, 2 anak2). Benernya kalo pake kartu pelajar bisa diskon 50% (lumayan banget kan?) tapi sayang gabisa dipake, soalnya lagi high season T.T Uda gitu, harga sewa loker, gazebo, bahkan sewa HANDUK sekalipun bikin aku sesek napas. Aku sampe nyaris kuatir kita harus puasa ga makan siang. Untungnya uang yang kita keluarin buat sewa loker n anduk dikembaliin setelah kita selesai make n kembaliin anduk n kunci loker. Harganya yang mahal itu ternyata jaminan biar kita gak ngilangin anduk ato kunci lokernya. Tapi tetep aja... MAHAL! Ya jelaslah, yang masuk aja bule2 semua. Bener2 manusia dari berbagai bangsa n negara... dan nyaris ga ada org lokal kecuali staf Waterbom n beberapa gelintir org laen.


Tips : Guys, laen kali kalo mau ke Waterbom, bawalah handuk sendiri n bawa orang buat ngejagain barang2... dengan demikian ga perlu nyewa anduk... n harga tiket masuk 1 org lebi murah daripada sewa loker n gazebo. Jangan bawa makanan dari luar soalnya tas kita bakal digeledah ama petugas (teliti banget lho). Kalo mau makan, harus beli di areal Waterbom (mahal banget). Kalo ga mau beli makanan, makan dulu aja di luar :P

4. Ada sistem baru buat bertransaksi di areal Waterbom. Jadi, sekarang, Waterbom gak melayani transaksi dengan cash. Kalo kita punya cash, kita depositin dulu di account kita. Nanti kita bakal nerima gelang yang ada barcodenya, tempat cash kita disimpen. Tiap mau transaksi, kita pake gelang ini, cashnya bakal didebet secara otomatis dari akun kita. Praktis ya? XD *Tapi tetep aja... mahal! Ada harga lokal gtu kek... -__-*

Tapi tetep aja.. Waterbom emang OK! (yaiyalah... duit segitu ga worth spending bisa kesel beneran aku). Seneng juga kesini lagi setelah sekian lama. Seruuu... Jadi pengen kesini ama temen2, kapan ya? XD

Monday, 22 June 2009

KONTROL ORGANISASI

Membangun struktur organisasi saja ternyata tidak cukup untuk memastikan bahwa suatu perusahaan kemudian akan beroperasi secara efektif dan efisien. Tanpa adanya fungsi kontrol, karyawan tidak akan merasa termotivasi untuk berperilaku sedemikian rupa agar bisa mencapai tujuan organisasi. Manajer dan karyawan dari unit fungsional yang berbeda akan cenderung fokus kepada tujuan unit mereka masing-masing dan bukan tujuan organisasi. Tugas seorang manajer lah untuk kemudian mengontrol: mengendalikan dan membentuk aktivitas divisi, fungsi, dan karyawan organisasi agar mereka dapat bekerja sebagai satu kesatuan yang harmonis.

Dalam planning dan organizing, manajer membangun strategi dan struktur organisasi yang mereka harapkan dapat memanfaatkan sumber daya yang dimiliki seefisien mungkin, dan juga dapat menciptakan nilai tambah bagi konsumen. Dalam langkah selanjutnya, yakni controlling, manajer memonitor dan mengevaluasi apakah strategi dan struktur yang mereka bangun berjalan sesuai harapan atau tidak. Apabila tidak, manajer kemudian akan mencari penyebabnya, untuk berusaha memperbaiki dan meningkatkan performa strategi dan struktur organisasi tersebut.

Kontrol organisasi dapat membantu suatu perusahaan memperoleh keunggulan kompetitif. Misalnya, sistem kontrol memiliki ukuran yang dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran seberapa efisien penggunaan sumber daya oleh perusahaan. Kontrol organisasi juga memberikan feedback kepada perusahaan mengenai kualitas produk mereka. Apabila perusahaan memonitor seberapa banyak keluhan yang datang dari konsumen setelah menggunakan produk mereka, maka perusahaan akan mendapatkan gambaran mengenai kualitas produk. Dalam meningkatkan customer responsiveness, perusahaan sebaiknya menggunakan sistem kontrol yang dapat digunakan untuk memonitor perilaku karyawan, terutama mereka yang melakukan kontak langsung dengan konsumen. Dalam hal meningkatkan inovasi, seorang manajer harus dapat membangun sistem kontrol yang mendorong karyawan untuk berani mengambil risiko. Misalnya, dengan cara mengevaluasi kinerja karyawan dan memberikan reward terhadap karyawan yang dinilai paling inovatif.

Manajemen Konflik

Dalam suatu organisasi, tidak bisa dihindari terjadinya konflik, baik karena perbedaan pendapat, perspektif, atau hal-hal lain. Konflik sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan dan sebisa mungkin harus dihindari. Padahal konflik sesungguhnya justru diperlukan untuk perkembangan organisasi. Dengan adanya konflik dan berbagai pandangan yang berbeda, kita bisa menganalisis kelemahan kita dari berbagai sudut, dan membuat keputusan yang efektif yang dapat meningkatkan kinerja kita. Tentu saja, konflik di dalam organisasi harus berada di level yang pas, dengan kata lain tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Terlalu sedikit konflik berarti organisasi tersebut homogen dan punya kecenderungan terjebak dalam groupthink. Terlalu banyak konflik juga buruk dampaknya bagi perusahaan, kinerja perusahaan akan terhambat, sebab anggotanya tidak pernah mencapai kata sepakat untuk bergerak maju.

Ada empat tipe umum konflik, yaitu konflik interpersonal (antarindividu), konflik intragrup (intern dalam sebuah kelompok, misalnya dalam departemen), konflik intergrup (konflik antargrup, misal antarunit fungsional), dan konflik interorganisasi (konflik yang terjadi antara organisasi satu dengan lainnya). Hal-hal yang menyebabkan konflik bisa bermacam-macam, misalnya perbedaan tujuan dan orientasi jangka waktu (orang-orang bagian pemasaran umumnya berorientasi jangka panjang, sementara bagian operasi berorientasi jangka pendek), pembagian kewenangan, dan menyangkut pengalokasian sumber daya yang langka.

Banyak strategi yang bisa digunakan untuk mengatasi konflik. Beberapa yang tidak efektif yaitu akomodasi (accommodation) dimana salah satu pihak mengalah pada kepentingan pihak yang lain, penghindaran (avoidance) dimana kedua pihak mengacuhkan sumber konflik, dan kompetisi (competition) dimana kedua pihak bersaing untuk mengalahkan kepentingan pihak yang lain. Ketiga cara ini tidak efektif sebab tidak akan menghasilkan solusi untuk menyelesaikan konflik.

Cara yang efektif untuk menyelesaikan konflik dapat ditempuh melalui kompromi dan kolaborasi. Dalam kompromi, masing-masing pihak terlibat dalam proses give-and-take hingga solusi dapat tercapai. Dalam kolaborasi, pihak yang berkonflik berusaha menyelesaikan perbedaan mereka dan mencapai solusi yang terbaik untuk semua

Komentar Artikel Suwardjono II

Posting ini merupakan komentar mengenai artikel "What Does Cost Really Mean?" yang ditulis oleh dosen saya, Dr. Suwardjono, M.Sc. Saya sarankan untuk mengunduh artikel aslinya di sini

Selama ini, memang banyak kerancuan mengenai padanan kata cost yang tepat dalam bahasa Indonesia. Di pelajaran yang didapatkan di tingkat SMA, cost diterjemahkan menjadi ‘biaya’. Contoh yang jelas bisa dilihat dari kata ‘Cost Accounting’ yang kemudian diterjemahkan menjadi ‘Akuntansi Biaya’.

Saya sendiri, karena baru mendapatkan pelajaran akuntansi semester 1 kemarin (saya berasal dari jurusan ilmu alam), masih tetap berpikir bahwa cost dalam bahasa Indonesia adalah ‘biaya’. Bila ditanya apa definisi cost, saya akan menjawab bahwa cost adalah ‘pengorbanan yang dilakukan perusahaan untuk memperoleh ‘sesuatu’’. ‘Sesuatu’ di sini bisa berupa aset, bisa pula berupa pendapatan. Bisa dilihat betapa rancunya pengertian saya mengenai cost. Terlebih lagi, pengertian tersebut sebenarnya lebih tepat sebagai pengertian dari expense, yang merupakan kata bahasa Inggris untuk ‘biaya’ (bukan cost). Pengertian saya mengenai expense dan cost selama ini tercampur baur. Yang saya tahu, cost pasti berupa pengorbanan, padahal belum tentu begitu.

Pengertian yang jelas mengenai cost dan expense, baru saya dapatkan sejak mengikuti kelas ini. Cost merupakan unit pengukur atau bahan olah akuntansi, sementara biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomik untuk memperoleh pendapatan. Biaya merupakan wadah atau elemen, yang diukur dengan cost. Itulah definisi sebenarnya dari cost dan expense. Karena itu, memang sangat keliru apabila expense kemudian diterjemahkan menjadi ‘beban’ dalam bahasa Indonesia, karena istilah ‘biaya’ telah terpakai untuk menerjemahkan cost. Kata expense-lah yang seharusnya diterjemahkan menjadi ‘biaya’ sementara cost sebenarnya tidak memiliki padan kata dalam bahasa Indonesia. Karena itu, kata cost seharusnya memang tetap ditulis sebagai cost atau diserap ke dalam bahasa Indonesia sebagai kos.

Bagi saya, artikel ini amat berguna karena membantu memahami apa sebenarnya arti cost dan membedakannya dari ‘biaya’. Tidak berlebihan bila saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak karena telah menulis artikel ini untuk menjelaskan kesalahpahaman yang telah menjadi sangat umum. Banyak teman-teman saya yang masih salah paham mengenai arti cost dan saya pikir ada baiknya mereka juga membaca artikel ini untuk mendapatkan pemahaman yang benar mengenai cost dan expense.

Komentar Artikel Suwardjono I

Posting berikut merupakan komentar mengenai artikel yang berjudul "Aspek Kebahasaan Indonesia dalam Karya Tulis Akademik/Ilmiah/Kesarjanaan" yang ditulis oleh dosen saya, Dr. Suwardjono, M.Sc. Untuk mengunduh artikel aslinya (saya sarankan) silakan klik di sini


Karya tulis akademik/ilmiah/kesarjanaan merupakan karya tulis yang nantinya akan dipelajari, dan menjadi sumber ilmu serta acuan bagi banyak orang. Mengingat karya-karya tulis ini di kemudian hari akan berperan sedemikian penting bagi banyak orang, saya setuju dengan pendapat penulis bahwa aspek kebahasaan dalam karya tulis akademik/ilmiah memang merupakan sesuatu yang vital. Celakalah apabila bahasa yang digunakan dalam karya-karya tulis ilmiah/akademik ternyata merupakan bahasa yang tidak bersifat keilmuan: misalnya bahasa umum atau malah bahasa jurnalistik yang bisa menyebabkan perbedaan konsep dan interpretasi. Para akademisi atau sarjana yang membaca karya-karya tersebut bisa-bisa salah kaprah dalam menyerap dan mengartikan ilmu yang mereka pelajari dengan cara membaca karya-karya tersebut, lantaran kelalaian dari segi bahasa.

Bahasa seharusnya memang selalu berkembang dan dinamis. Saya kebetulan mempelajari bahasa Jepang. Guru saya memberitahu saya bahwa kamus bahasa Jepang semakin tahun semakin bertambah tebal. Untuk mendukung dunia pendidikan Jepang, agar sebanyak mungkin ilmu dapat diserap oleh masyarakatnya, Pemerintah Jepang selalu berperan aktif dalam menyerap istilah-istilah akademis dari bahasa asing (biasanya Inggris) dan terkadang mereka bahkan menciptakan huruf kanji baru untuk mendukung penyerapan istilah asing tersebut. Penciptaan huruf kanji dan istilah-istilah baru tersebut kemudian diumumkan kepada masyarakat, dan para civitas akademika Jepang juga dengan kemauan sendiri menerima dan menggunakan istilah-istilah yang diciptakan pemerintah tersebut. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa untuk bisa menulis karya-karya tulis ilmiah, maupun untuk memahami karya-karya tersebut, level bahasa mereka harus ditingkatkan. Dan hal inilah, yang saya lihat, memang sangat kurang di Indonesia.

Civitas akademika di sini tidak memiliki kesadaran maupun kemauan yang kuat untuk memperkaya kosakata. Padahal, mereka adalah orang terpelajar. Kosakata saya sendiri sebenarnya juga masih terbatas dan saya tidak bisa membanggakan hal tersebut, namun saya memiliki keinginan kuat untuk memperkaya kosakata saya, sebab itulah yang akan membantu saya dalam mempelajari banyak ilmu, dan juga akan membedakan saya dengan orang-orang awam yang mungkin tidak menempuh pendidikan sampai ke perguruan tinggi.

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

Tiap perusahaan menganut etika sosial, individual, organisasional, dan okupasional yang berbeda. Empat hal ini adalah pembentuk etika bisnis perusahaan. Apabila dasarnya berbeda, tentu saja etika bisnis mereka pun otomatis berbeda. Perbedaan etika bisnis perusahaan pada akhirnya memengaruhi pandangan dan posisi mereka terhadap tanggung jawab sosial perusahaan kepada para pemegang pancang (stakeholders).

Ada empat pendekatan yang dapat dianut perusahaan berkenaan dengan tanggung jawab sosial mereka. Pendekatan sebuah perusahaan terhadap tanggung jawab sosial mereka dapat dilihat dari sejauh mana perusahaan memerhatikan kewajiban mereka terhadap para pemegang pancang dan membuat keputusan yang akan melindungi dan meningkatkan kesejahteraan para pemegang pancang dan juga masyarakat pada umumnya. Misalnya, cara perusahaan bersikap saat mereka mengetahui mereka telah menjual produk yang rusak atau bahkan berbahaya (defect) pada konsumen. Ada perusahaan yang mengakui kesalahan mereka dan menarik produk tersebut, namun ada pula yang berusaha menyembunyikan atau menghindar dari tuduhan (denial).

Perusahaan yang berusaha menyembunyikan atau menolak fakta bahwa mereka telah menjual produk yang rusak biasanya memiliki sedikit kesadaran soal tanggung jawab sosial, dan menganut Pendekatan Obstruksionis. Itu berarti perusahaan tidak berusaha untuk bertanggung jawab sosial, dan akan melakukan berbagai tindakan tidak etis untuk mencegah masyarakat tahu. Pendekatan Defensif merupakan pendekatan dimana perusahaan mematuhi hukum, namun tidak lebih dari itu. Sering para manajer memanfaatkan lubang-lubang yang ada dalam hukum untuk berbuat tidak etis demi keuntungan sendiri.

Perusahaan yang memiliki kesadaran tinggi akan tanggung jawab sosial biasanya menganut Pendekatan Akomodatif atau Proaktif. Dalam Pendekatan Akomodatif, perusahaan bersikap etis dan berusaha menyeimbangkan berbagai kebutuhan antara para pemegang pancang, bila dibutuhkan. Sedangkan dalam Pendekatan Proaktif, perusahaan berusaha mencari tahu kebutuhan para pemegang pancang, dan secara aktif menggunakan berbagai sumber daya yang tersedia untuk bertanggung jawab sosial.